Bankterkini.com – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara memulai tahap awal pelaksanaan enam proyek hilirisasi strategis melalui seremoni peletakan batu pertama secara serentak di 13 lokasi di berbagai wilayah Indonesia. Total nilai investasi yang digelontorkan mencapai US$7 miliar atau setara Rp117 triliun. Langkah ini menandai dimulainya fase pertama proyek hilirisasi prioritas yang dirancang untuk memperkuat struktur industri nasional.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa proyek-proyek tersebut merupakan bagian dari agenda transformasi ekonomi nasional. Fokus utamanya adalah memperkuat sektor riil serta meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri. Selain itu, implementasi proyek ini juga diarahkan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Melalui pelaksanaan enam proyek tersebut, Danantara memperkirakan akan tercipta lebih dari 6.000 lapangan kerja langsung. Penyerapan tenaga kerja ini diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi nyata, terutama bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek. Di sisi lain, proyek-proyek ini dikelola secara terintegrasi lintas sektor, mencakup energi, pangan, mineral, dan logam.
Pelaksanaan hilirisasi fase pertama ini diposisikan sebagai fondasi penguatan industri nasional. Secara bertahap, strategi tersebut juga ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor dan memperkuat kemandirian ekonomi. Dengan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, badan usaha milik negara, dan mitra strategis, proyek hilirisasi diharapkan memiliki daya saing global.
Salah satu proyek yang diresmikan adalah pengembangan bioetanol di Glenmore, Banyuwangi. Proyek ini dijalankan oleh PTPN III (Persero) bersama Pertamina dengan kapasitas produksi mencapai 100 kiloliter per hari. Bioetanol tersebut dirancang untuk mendukung sektor energi sekaligus memperkuat rantai nilai industri berbasis sumber daya domestik.
Proyek bioetanol ini juga membawa manfaat tambahan berupa diversifikasi usaha dan peningkatan nilai tambah komoditas pertanian. Selain mendukung ketahanan energi nasional, pengembangan bahan bakar nabati ini berpotensi menghemat devisa dan berkontribusi pada upaya pengurangan emisi karbon. Dampak tidak langsungnya mencakup peningkatan kesejahteraan petani mitra dan pengembangan wilayah sekitar.
Direktur Utama PTPN III, Denaldy Mulino Mauna, menilai proyek tersebut membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat dan memperluas manfaat energi terbarukan. Menurutnya, hilirisasi menjadi instrumen penting dalam mempercepat transformasi ekonomi nasional yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Ke depan, Danantara bersama BUMN terkait menegaskan komitmen untuk memastikan seluruh proyek hilirisasi berjalan disiplin, tepat waktu, serta memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional.








