Hari ini Komisi VI DPR RI menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan empat bank BUMN, antara lain PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN).
Keempat bank BUMN memaparkan kinerja selama tahun lalu, dimulai dari BRI yang memaparkan laba bersih yang mencapai Rp 51,4 triliun. Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan penopang laba bersih ini karena perseroan berhasil menurunkan biaya dana dan biaya operasional.
“BRI memurahkan biaya operasional melalui berbagai program transformasi, menekan biaya kredit atau menekan cadangan pemburukan kualitas kredit. Jadi cost of credit turun, itu kuncinya kenapa labanya bisa besar,” kata Sunarso di Komisi VI DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa, (28/3/2023).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
BRI juga berhasil mengerek naik porsi fee based income menjadi Rp 18,8 triliun dan menjadikan fee income ratio BRI menjadi tertinggi sepanjang sejarah yaitu 11,37%. Sunarso mengungkapkan tahun ini kredit ditargetkan tumbuh 10-12% lalu cost of credit ditekan 2,2-2,4%.
Untuk rasio kredit bermasalah akan dijaga pada level 2,6-2,8%. Selanjutnya cost to income ratio di level 40-41,5%. Dengan ini BRI turut berkontribusi langsung kepada negara dengan pembayaran PPh Badan Rp 12,14 triliun dan dividen Rp 23,15 triliun.
“Total dividen yang kita bayarkan Rp 43 triliun atau 85% dari laba kita, porsi untuk pemerintah Rp 23,15 triliun,” jelas dia.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi menjelaskan pada 2022 perseroan mencatatkan aset secara konsolidasian Rp 1.993 triliun, penyaluran kredit secara konsolidasi Rp 1.202,2 triliun, dan dana pihak ketiga (DPK) konsolidasi tercatat Rp 1.490,8 triliun.
“Laba bersih secara konsolidasi mencapai Rp 41,17 triliun atau tumbuh 46,89% year on year,” kata Darmawan.
BNI dan BTN di halaman berikutnya.
Lihat juga Video: A. R. Tanjung Si Pelukis Poster Film ‘Panas’








