Site icon bankterkini.com

Eskalasi Konflik Iran Israel dan Ancaman Global Penutupan Selat Hormuz

Eskalasi Konflik Iran Israel dan Ancaman Global Penutupan Selat Hormuz

Eskalasi Konflik Iran Israel dan Ancaman Global Penutupan Selat Hormuz

Bankterkini.com – Ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat tajam setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran: Natanz, Fordo, dan Isfahan. Serangan yang dinamai “Midnight Hammer” tersebut dilakukan pada akhir pekan lalu dan diklaim berhasil oleh Presiden AS Donald Trump, yang mendesak Iran agar kembali ke jalur diplomasi.

Trump menyebut Iran sebagai negara penindas dan mengancam akan melancarkan serangan lebih besar jika pemerintah Teheran menolak berdamai. Sikap agresif Washington itu memperkeruh situasi di kawasan dan memicu reaksi keras dari Iran.

Sebagai balasan, Iran menyatakan siap menutup Selat Hormuz—jalur laut sempit yang menjadi jalur utama ekspor energi dunia. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa parlemen mendukung langkah tersebut. Namun, keputusan akhir akan diambil oleh Dewan Keamanan Nasional Iran.

Langkah penutupan Selat Hormuz dinilai berisiko tinggi bagi stabilitas ekonomi global. Setidaknya 20 juta barel minyak per hari atau sekitar 20 persen dari konsumsi minyak dunia melintasi selat ini. Selain itu, rute ini juga digunakan untuk pengiriman gas alam cair (LNG).

Pakar investasi dan hubungan internasional Zenzia Sianica Ihza memperingatkan bahwa blokade ini bukan sekadar ancaman retoris. Menurutnya, Indonesia berpotensi terdampak serius bila penutupan benar-benar dilakukan. Ia menekankan bahwa lonjakan harga energi bisa menekan anggaran negara, mengganggu stabilitas pasar, dan menurunkan daya beli masyarakat.

Jika harga minyak dunia melambung, subsidi energi akan membengkak dan neraca perdagangan berisiko melemah. Sektor industri, transportasi, dan logistik domestik pun diprediksi terdampak. Oleh karena itu, Zenzia mendorong pemerintah mempercepat diversifikasi pasokan energi dari luar kawasan Timur Tengah dan memperkuat cadangan minyak strategis nasional.

Lebih lanjut, ia menyarankan agar Presiden Prabowo Subianto mempertimbangkan pemberian bantuan langsung dan subsidi tambahan kepada kelompok rentan demi menjaga stabilitas konsumsi dalam negeri. Ia juga menyoroti pentingnya menjaga iklim investasi dengan memperkuat kepastian hukum dan memberikan insentif fiskal.

Sementara itu, pengamat energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, menilai Indonesia tak bisa menghindari dampak buruk jika Selat Hormuz diblokade. Ia menyoroti bahwa negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sangat bergantung pada pasokan minyak dari jalur tersebut.

Menurutnya, jika konflik terus memburuk, harga minyak global bisa melonjak hingga US$145 per barel. Hal ini berpotensi menciptakan efek berantai, mulai dari penurunan nilai tukar hingga perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional.

Yayan juga mengingatkan bahwa Iran sangat membutuhkan Selat Hormuz untuk aktivitas ekspor dan pembiayaan perang. Oleh karena itu, ia memperkirakan bahwa penutupan selat tidak akan berlangsung lama, sebab akan merugikan Iran sendiri dalam jangka panjang.

Dalam menghadapi situasi ini, Yayan mendorong Indonesia agar bersikap tegas dalam diplomasi internasional dan turut menyerukan penghentian kekerasan. Peran aktif Indonesia sebagai negara non-blok dinilai krusial untuk menjaga stabilitas kawasan serta menekan risiko konflik meluas menjadi perang global.

Exit mobile version