Bankterkini.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai nilai tukar rupiah saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Menurut Purbaya, dengan pengelolaan yang tepat oleh otoritas moneter, rupiah memiliki ruang untuk menguat hingga mendekati level Rp15 ribu per dolar Amerika Serikat.
Pandangan tersebut disampaikan Purbaya Yudhi Sadewa saat menjadi pembicara dalam Indonesia Economic Summit (IES) 2026 yang digelar di Jakarta. Ia menilai penguatan rupiah ke level tersebut bukan hal yang sulit dicapai, terutama jika melihat kondisi mata uang regional yang saat ini cenderung menguat terhadap dolar AS.
Purbaya menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terjadi di tengah situasi yang berbeda di kawasan Asia Tenggara. Sejumlah mata uang regional, seperti baht Thailand, ringgit Malaysia, dolar Singapura, hingga dong Vietnam, justru menunjukkan tren penguatan. Kondisi ini membuat pergerakan rupiah tampak menyimpang dibandingkan negara-negara di sekitarnya.
Menurut Purbaya Yudhi Sadewa, fenomena tersebut menjadikan rupiah sebagai pengecualian di kawasan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar sepenuhnya berada dalam kewenangan Bank Indonesia. Pemerintah, kata dia, tidak berada pada posisi untuk mengambil alih peran bank sentral dalam menentukan kebijakan moneter.
Namun, Purbaya menekankan bahwa koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan otoritas terkait tetap berjalan. Koordinasi tersebut dilakukan melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sebagai langkah antisipasi apabila tekanan nilai tukar berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi nasional.
Ia mencontohkan ketika rupiah sempat bergerak mendekati level Rp17 ribu per dolar AS. Pada saat itu, KSSK langsung menggelar rapat koordinasi untuk memastikan nilai tukar tidak menembus batas psikologis yang dinilai sensitif bagi masyarakat.
Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa secara fundamental, pelemahan rupiah hingga level tersebut belum tentu memicu krisis ekonomi. Namun, ia mengingatkan bahwa faktor psikologis masyarakat perlu menjadi perhatian. Pengalaman krisis ekonomi 1997–1998 masih membekas, sehingga pelemahan rupiah yang terlalu dalam dapat menimbulkan kekhawatiran berlebihan.
Lebih lanjut, Purbaya menyampaikan bahwa asumsi nilai tukar rupiah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS. Angka tersebut dinilai masih mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini.
Meski begitu, ia meyakini rupiah memiliki peluang untuk menguat lebih jauh seiring perbaikan indikator ekonomi domestik. Purbaya menambahkan bahwa penguatan nilai tukar sangat bergantung pada kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional.
Ketika pertumbuhan ekonomi membaik dan arus investasi asing terus mengalir, Purbaya Yudhi Sadewa menilai penguatan rupiah akan terjadi secara alami. Menurutnya, masuknya modal asing akan menjadi pendorong utama bagi stabilitas dan penguatan nilai tukar ke depan.







