bankterkini.com
  • Berita Terkini
  • Cari
Sabtu, Mei 2, 2026
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Cari
No Result
View All Result
bankterkini.com
No Result
View All Result

Apa Langkah yang Perlu Diambil Indonesia untuk Redam Dampak Resesi?

admin by admin
27 Juli 2022
in info Bank
0
Apa Langkah yang Perlu Diambil Indonesia untuk Redam Dampak Resesi?

Jakarta –

Resesi ekonomi global mengancam dunia. Dikutip dari Detik.com (14/07), Presiden Bank Dunia David Malpass sudah memberikan peringatan. Sementara di Indonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam konferensi pers di Nusa Dua Bali pada pertengahan Juli mengakui Indonesia masih dibayangi ancaman resesi.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengatakan resesi yang sudah terjadi di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, akan berdampak kepada Indonesia. Memasuki semester kedua hingga akhir tahun, tekanan resesi akan semakin besar dirasakan.

Namun menurut Bhima, Indonesia saat ini masih diuntungkan dengan harga komoditas yang tinggi, tapi ini diprediksi tidak akan berlangsung lama. “Negara-negara maju yang selama ini membeli komoditas dari Indonesia tentunya dengan resesi akan menurunkan harga beli. Jadi harga yang tinggi saat ini sifatnya hanya temporer,” kata Bhima kepada DW Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Eko Listiyanto, menyampaikan hal serupa. Menurutnya saat ini Indonesia masih relatif aman karena pemerintah masih menahan kenaikan harga melalui subsidi, seperti pemberian subsidi BBM dan LPG.

“Tidak serta-merta naik ketika terjadi inflasi. Sementara di beberapa negara maju, ketika terjadi inflasi harga langsung naik, konsumen langsung merasakan. Pemerintah menahan inflasi dengan ratusan triliun subsidi. Namun ini tidak akan berlangsung lama, mungkin hanya setahun ke depan,” terangnya.

Jaga nilai tukar rupiah, subsidi, tunda IKN

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan pemerintah untuk mengerem laju inflasi di Indonesia. Salah satunya dengan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. “Devisa yang didapatkan dari ekspor harus segera dikonversikan ke rupiah. Dari dolar jadikan rupiah, ini bisa memperkuat nilai tukar rupiah,” ujar Bhima.

Ia juga menilai pemerintah harus mulai berhemat dengan menunda pelaksanaan mega proyek infrastruktur dan mengalihkan dana yang ada untuk subsidi. Pemberian subsidi dapat menahan inflasi dan meningkatkan daya beli masyarakat.

“Pemerintah harus mendorong agar APBN bisa lebih pro stabilitas harga. Subdisi energi ditambah, anggaran untuk pupuk ditambah, stimulus pandemi bisa tetap dilanjutkan. Mau tidak mau proyek Ibu Kota Negara (IKN) harus mengalah dulu agar negara bisa berhemat,” paparnya.

Pentingnya menjaga stabilitas rupiah juga disampaikan Eko karena merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika akan meningkatkan biaya impor.

“Kenaikan harga tidak bisa dihindari ketika ada ketergantuan barang modal dan bahan baku impor, hal ini akan memengaruhi struktur biaya pada sektor riil,” ujarnya. Eko juga menambahkan bahwa pembangunan IKN bukanlah kebutuhan mendesak dan bisa ditunda.

“Tujuannya untuk mengoptimalkan peran APBN sebagai shock absorber di tengah dinamika global. Refocusing dan tingkatkan kualitas belanja APBN,” katanya.

Insentif untuk tingkatkan produksi pangan

Eko juga menilai bahwa pemerintah perlu meningkatkan produktivitas pangan dalam negeri. Caranya melalui pemberian insentif petani untuk meningkatkan kualitas hasil pangan serta menjalin kemitraan atau integrasi dengan industri di sisi hilir. Perlu juga meningkatkan pendampingan dan pemberdayaan petani pada pertanian presisi, digitalisasi rantai nilai pangan, serta penggunaan teknologi hasil pertanian.

“Termasuk membelokan pasar ke dalam negeri dengan memprioritaskan UMKM. Ini bisa diinisiasi oleh pemerintah dengan kebijakan pengadaan barang dan jasa oleh pemerintah melalui komponen belanja barang dalam APBN. Selain itu, pengadaan barang untuk BUMN juga dapat diarahkan untuk mengoptimalkan penggunaan barang dengan local content yang cukup tinggi,” katanya.

Waspadai gagal bayar

Bhima mengatakan invasi Rusia terhadap Ukraina akan menjadi pemicu 50% resesi global. Kondisi ini diperparah dengan gelombang cuaca panas yang menimpa negara-negara di Asia Selatan sehingga berdampak pada pasokan pangan.

Saat ini ada dua negara di ASEAN, yakni Myanmar dan Laos, yang berada diambang resesi. Pemerintah dinilai mesti waspada karena saat ini hubungan dagang Indonesia dengan dua negara tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan Sri Lanka.

“Ketika Myanmar gagal membayar utang, ini akan berdampak pada Indonesia. Salah satunya persepsi investor global terhadap Indonesia yang sama-sama negara berkembang. Harga pangan di Indonesia mahal, dan daya beli masyarakat turun,” menurut Bhima.

Bagaimana dengan ranah rumah tangga?

Bhima Yudhistira memperkirakan resesi global saat ini akan menjadi resesi jangka panjang. Karena itu masyarakat diharapkan mulai mengendalikan gaya hidup dengan banyak hemat. Masyarakat juga sangat dianjurkan untuk memiliki dana darurat atau dana cadangan minimal 10% dari pendapatan serta mulai mencari sumber pendapatan sampingan.

“Kurangi membeli makanan impor, namanya long resesi bisa 2-3 tahun ke depan. Amerika Serikat sendiri belum dapat memastikan kapan kondisinya bisa membaik, karena tanpa konflik Rusia dan Ukraina, Amerika sendiri sudah memiliki masalah penyediaan pasokan dalam negeri. Kondisi memang sedang sulit,” ujar Bhima. (ae)

(ita/ita)

Previous Post

Semester I BRI Raup Laba Bersih Rp 24,88 Triliun Tumbuh 98%

Next Post

Kominfo Sambut Inisiatif BNI Kembangkan Industri Game

Next Post
Kominfo Sambut Inisiatif BNI Kembangkan Industri Game

Kominfo Sambut Inisiatif BNI Kembangkan Industri Game

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1.000 UMKM di Bali Disasar untuk Memanfaatkan Galeri Investasi Digital

1.000 UMKM di Bali Disasar untuk Memanfaatkan Galeri Investasi Digital

7 Agustus 2023
Laporan Kinerja Bank Syariah Indonesia Usai Setahun Operasi

Laporan Kinerja Bank Syariah Indonesia Usai Setahun Operasi

3 Februari 2022
6 Beasiswa UGM untuk Sarjana-Sarjana Terapan di Maret 2023, Ini Rinciannya

6 Beasiswa UGM untuk Sarjana-Sarjana Terapan di Maret 2023, Ini Rinciannya

14 Maret 2023
BRI Sudah Salurkan Kredit Rp 1.026 Triliun, Tahun Depan Nambah Lagi

BRI Sudah Salurkan Kredit Rp 1.026 Triliun, Tahun Depan Nambah Lagi

27 Oktober 2021
BRI Optimistis Loan at Risk Capai 10% di 2024

BRI Optimistis Loan at Risk Capai 10% di 2024

7 November 2023
Ada Temuan Senilai Rp 18 T yang Berpotensi Rugikan Negara

Ada Temuan Senilai Rp 18 T yang Berpotensi Rugikan Negara

6 Desember 2023
Tabungan Nasabah Bank Sulselbar Rp 10 M Raib Diusut Berbeda Polisi dan Jaksa

Tabungan Nasabah Bank Sulselbar Rp 10 M Raib Diusut Berbeda Polisi dan Jaksa

10 November 2022

Erick Thohir Tutup 70 BUMN

27 November 2021

Kupas Tuntas Strategi Dorong Ketangguhan Desa di Talkshow Ini!

13 Desember 2021

BRI Tekankan Hal Ini untuk Genjot Inovasi Kemudahan Transaksi Berbisnis

13 November 2023

Kominfo Sambut Inisiatif BNI Kembangkan Industri Game

27 Juli 2022

Nasabah Bank Mandiri Ramai-ramai ‘Bye-bye Dolar AS’, Nih Buktinya

17 November 2021

Gaji PNS Bakal Setara Pegawai BUMN, Cek Rewardnya!

27 November 2023

Malam Nanti! Samsons Bakal Ramaikan Puncak Pesta Rakyat Simpedes di Pati

27 Agustus 2023

BRI Ultah Ke-126, Jokowi: Terus Aktif Bangun Ekonomi Kerakyatan

17 Desember 2021

Babak Baru Iman Mahlil Penyebar QRIS Palsu Segera di Meja Hijau

27 Juli 2023
© Copyright Bankterkini Team All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Home
  • Entertainment
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
  • Lifestyle
    • Fashion
    • Food
    • Travel
    • Health
  • News
    • Bussiness
    • Politics
    • Science
    • World
  • Tech
    • Apps
    • Gadget
    • Mobile