BankTerkini.com – Pada perdagangan pagi hari ini, harga emas menunjukkan kecenderungan naik di Pasar Spot Internasional. Pukul 09:14 WIB, Jumat (14/6/2024), harga emas mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,16% dibandingkan hari sebelumnya, mencapai US$ 2.306,04 per troy ons.
Dalam analisis jangka pendek, harga ini telah menunjukkan kenaikan sebesar 0,58% dalam satu minggu terakhir, meskipun masih mengalami penurunan sebesar 3,57% dalam satu bulan terakhir.
Menurut para analis, prospek harga emas ke depan masih menunjukkan potensi kenaikan meskipun saat ini berada dalam zona bearish jika dilihat dari perspektif harian. Indikator Relative Strength Index (RSI) saat ini berada pada angka 44,89, menandakan aset ini masih dalam posisi bearish. Namun, indikator Stochastic RSI yang berada di 19,72 menunjukkan sinyal oversold, yang biasanya diikuti oleh potensi koreksi harga naik.
“Secara teknikal, terdapat potensi bagi harga mencapai resisten terdekat di US$ 2.311 per troy ons. Jika resisten ini tertembus, target selanjutnya berada di US$ 2.326 per troy ons,” ungkap seorang analis pasar komoditas.
Di sisi lain, ada juga level support penting yang perlu diperhatikan. “Dalam skenario penurunan, support terdekat berada di US$ 2.299 per troy ons. Penembusan di level ini dapat menyebabkan harga emas turun lebih lanjut ke arah US$ 2.283 per troy ons,” jelasnya.
Proyeksi Harga Emas Menjelang Paruh Kedua 2024
Bulan lalu, harga emas mencatat rekor tertinggi sepanjang masa, mencapai sorotan utama di pasar global. Amar Singh, Head of Metals untuk kawasan Asia-Pasifik dan Timur Tengah di StoneX, menyatakan optimisme tinggi terhadap pergerakan harga emas ke depan. Menurutnya, ada potensi bagi harga emas untuk mencapai kisaran US$ 2.600-2.700 per troy ons dalam waktu yang relatif singkat.
“Kami melihat faktor-faktor seperti pelonggaran moneter yang mungkin dilakukan oleh bank sentral, ketegangan geopolitik yang masih ada di beberapa kawasan termasuk Eropa dan Timur Tengah, serta pembelian besar-besaran emas oleh bank sentral, khususnya dari China, dapat menjadi pendorong utama bagi kenaikan harga emas,” ujar Singh seperti dilansir dari Bloomberg News.
Ruth Crowell, CEO London Bullion Market Association, juga memberikan pandangan serupa. Menurutnya, meskipun kondisi ekonomi China dan Jepang tengah berada dalam tantangan, emas tetap menjadi pilihan investasi yang aman.
“Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi harga ke depan, tetapi yang paling utama adalah peran China. Tradisionalnya, China dan Jepang cenderung berinvestasi dalam aset yang stabil dalam situasi ekonomi yang tidak pasti. Kami melihat bahwa emas tetap menarik sebagai bagian dari strategi perlindungan kekayaan jangka panjang,” kata Crowell.
Secara keseluruhan, meskipun saat ini harga emas masih berada dalam tekanan bearish, ada optimisme yang cukup kuat terkait dengan potensi kenaikan harga dalam beberapa bulan mendatang. Faktor-faktor seperti kebijakan moneter global, ketegangan geopolitik, dan aksi pembelian emas oleh bank sentral diyakini akan memberikan dorongan positif bagi proyeksi emas. Investor dan pelaku pasar diharapkan untuk tetap memantau perkembangan ini dengan cermat guna mengambil keputusan investasi yang tepat.
Baca juga: IHSG Kembali Terperosok, Investor Asing Jual Saham Besar-Besaran
Sumber: Bloomberg Technoz.








