Bankterkini.com – PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), salah satu anggota konsorsium proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau WHOOSH, masih menghadapi beban keuangan yang cukup besar dari pembangunan infrastruktur transportasi tersebut. Beban itu terdiri dari klaim yang belum dibayarkan hingga penurunan nilai investasi perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan semester I-2025, WIKA mencatat saldo pekerjaan dalam proses konstruksi (PDPK) senilai Rp5,01 triliun. Saldo ini berisi klaim atas pengerjaan proyek yang masih menunggu penyelesaian melalui mekanisme adendum, arbitrase, maupun mediasi.
Klaim tersebut muncul akibat pembengkakan biaya atau cost overrun selama pembangunan kereta cepat. Dengan kata lain, saldo PDPK mencerminkan piutang konstruksi yang tengah ditagihkan WIKA kepada pemilik proyek, yakni PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Manajemen perusahaan menegaskan bahwa upaya penagihan senilai Rp5,01 triliun masih berlangsung. Proses ini diharapkan dapat memperbaiki posisi keuangan WIKA di tengah beban berat yang ditanggung akibat proyek strategis nasional tersebut.
WHOOSH sendiri berada di bawah naungan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), konsorsium yang terdiri dari PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I), WIKA, serta KAI sebagai pemegang saham mayoritas dengan porsi sekitar 58,53%.
Selain piutang konstruksi, WIKA juga menghadapi penurunan nilai investasi hingga lebih dari Rp4 triliun. Penurunan tersebut berkaitan langsung dengan porsi penyertaan modal WIKA di PSBI sebagai salah satu anggota konsorsium.
Pada 28 November 2022, PT Wijaya Karya Tbk menyetor modal sebesar Rp6,11 triliun ke PSBI sehingga tercatat memiliki 39,12% kepemilikan saham. Namun, posisi itu berubah pada Desember 2024 saat PSBI menerbitkan 2,69 juta saham senilai Rp2,69 triliun. Saham baru tersebut sepenuhnya diserap oleh KAI sehingga porsi kepemilikan WIKA terdilusi menjadi 33,36%.
Per 30 Juni 2025, saldo penyertaan modal WIKA di PSBI tercatat senilai Rp2,39 triliun. Angka itu menunjukkan akumulasi penurunan nilai investasi setara Rp4,32 triliun dibandingkan dengan total setoran modal awal perusahaan.
Tekanan finansial dari proyek KCJB menambah daftar tantangan yang harus dihadapi WIKA dalam memperbaiki kinerja keuangannya. Di tengah situasi ini, perusahaan masih berfokus pada proses restrukturisasi, efisiensi operasional, serta penguatan arus kas.
Pemerintah sebelumnya menempatkan proyek WHOOSH sebagai salah satu proyek strategis nasional yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan mobilitas masyarakat, serta menjadi simbol modernisasi transportasi di Indonesia. Namun, beban biaya yang lebih besar dari perkiraan awal membuat konsorsium, termasuk WIKA, perlu menanggung konsekuensi finansial yang cukup signifikan.
Sejauh ini, PT Wijaya Karya Tbk tetap menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan kewajiban serta mengupayakan penyelesaian klaim yang masih tertunda. Keberhasilan penagihan piutang Rp5,01 triliun diharapkan dapat menjadi salah satu langkah penting dalam memperbaiki kondisi finansial perusahaan ke depan.








