Bankterkini.com – Perekonomian Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda positif setelah pemerintah dan Bank Indonesia (BI) menggelontorkan bauran kebijakan moneter dan fiskal. Sinyal awal itu tampak dari pasar keuangan hingga perlahan merembet ke sektor riil.
Dari sisi fiskal, Menteri Keuangan Purbaya menegaskan komitmen menjaga laju pertumbuhan melalui belanja negara yang agresif. Salah satu langkah yang ditempuh adalah memindahkan dana menganggur sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke lima bank milik negara. Penempatan dana ini diharapkan memperkuat likuiditas perbankan serta mendorong penyaluran kredit produktif. Pemerintah juga menyiapkan paket stimulus bertajuk 8+4+5 sebagai dorongan tambahan bagi perekonomian di akhir tahun.
Di sisi moneter, BI menurunkan suku bunga acuan BI Rate sebanyak lima kali sepanjang 2025 dengan total 125 basis poin hingga berada di level 4,75% pada September. Penurunan ini didesain untuk menurunkan biaya pendanaan perbankan sekaligus mempercepat transmisi kebijakan ke sektor kredit.
Data pasar menunjukkan penurunan signifikan pada instrumen keuangan. Indonesia Overnight Index Average (IndONIA) tercatat turun sekitar 144 basis poin sejak awal tahun, sementara Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 6-12 bulan melemah lebih dari 200 basis poin. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 2 tahun juga terkoreksi sekitar 185 basis poin. Indikator tersebut mencerminkan biaya dana jangka pendek menjadi lebih murah dan menandai stimulus moneter mulai bekerja.
Meski demikian, transmisi ke bunga kredit masih berjalan bertahap. Hingga Agustus, rata-rata bunga kredit rupiah hanya turun tipis 3 basis poin menjadi 9,13%, sementara bunga simpanan DPK rupiah turun 6 basis poin ke level 3,07%. Penurunan lebih nyata tercatat pada sektor prioritas seperti konstruksi dan pembiayaan hijau yang kini berada di bawah rata-rata industri.
Kebijakan fiskal melalui penempatan dana pemerintah turut mempercepat proses ini. Likuiditas perbankan bertambah sehingga bank tidak perlu lagi menawarkan deposito berbunga tinggi. Perkembangan itu tercermin dari pertumbuhan uang beredar M0 Adjusted yang naik 7,34% secara tahunan pada Agustus, disertai percepatan pertumbuhan M2.
Transmisi kebijakan diperkirakan terjadi secara berlapis. Pasar uang dan obligasi negara biasanya merespons lebih cepat, kemudian diikuti penurunan bunga simpanan dalam 1-3 bulan. Selanjutnya, bunga kredit, termasuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR), diproyeksikan menurun lebih nyata dalam kurun 3-6 bulan. Efek lebih lanjut baru akan terlihat pada peningkatan konsumsi dan investasi dalam 2-4 kuartal.
Sejumlah ekonom menilai dampak penuh akan terasa pada 2026, meski tanda awal mulai terlihat sejak paruh akhir 2025. Pada kuartal IV-2025, bank diperkirakan menurunkan suku bunga dasar kredit (SBDK) dan melakukan penyesuaian cicilan KPR serta kredit modal kerja. Pipeline pembiayaan juga berpotensi mengalir lebih cepat seiring konversi dana pemerintah menjadi kredit produktif.
Untuk tahun ini, target pertumbuhan ekonomi 2025 ditetapkan sebesar 5,2%. Dengan realisasi Semester I sebesar 4,99%, maka paruh kedua tahun ini dituntut tumbuh rata-rata 5,41%. Jika kuartal III berada di kisaran 5,0-5,1%, maka kuartal IV harus mampu mencapai sekitar 5,7-5,9% agar target tahunan tercapai.
Kombinasi kebijakan fiskal dan moneter diharapkan memberi dorongan kuat pada akhir 2025 hingga awal 2026. Apabila penyaluran dana berjalan optimal dan stabilitas rupiah terjaga, perekonomian diperkirakan mampu mempertahankan momentum menuju pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.








