BankTerkini.com – Mata uang Rupiah terus merosot dalam pembukaan perdagangan hari Selasa (20/2/2024), sejalan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya yang juga terkikis oleh dominasi dolar Amerika Serikat (AS).
Rupiah dibuka melemah mencapai Rp15.653/US$, mengalami penurunan sebesar 0,15% dari posisi penutupan pada hari sebelumnya. Namun, pelemahan ini tidak terisolasi, hampir seluruh mata uang Asia juga mengalami penurunan, seperti baht Thailand yang turun 0,31%, dolar Taiwan yang terkoreksi 0,24%, serta won Korea Selatan yang melemah 0,2%. Rupiah hanya menjadi salah satu dari sekian mata uang yang terpukul, diikuti oleh penurunan nilai ringgit Malaysia sebesar 0,1%. Hanya beberapa mata uang yang masih bertahan, seperti peso Filipina, rupee India, dan yuan China serta yuan offshore.
Indeks dolar AS terus menanjak, naik sebanyak 0,1% pada pagi hari ini, menambah tekanan pada pasar global yang juga terpengaruh oleh fluktuasi indeks harga obligasi di negara maju maupun berkembang semalam. Hal ini terjadi ketika pasar Amerika Serikat masih tutup pada hari Senin sebelumnya.
Para pelaku pasar kini tengah menantikan berita positif yang mampu mengembalikan minat investasi, setelah data ekonomi AS yang terjadi pekan lalu menyebabkan fluktuasi pasar meningkat.
Baca juga: Optimisme Pasar: Saham Bank BUMN Melonjak di Awal Pekan
Namun, di sisi lain, Horizon Minerals Plc yang didukung oleh Glencore Plc mengeluarkan peringatan, menyatakan perlunya paket pembiayaan baru untuk melanjutkan proyek nikel di Brasil utara. Tinjauan terbaru menunjukkan bahwa biaya tambang akan meningkat hingga 87% dari yang sebelumnya diperkirakan.
Perusahaan yang terdaftar di London ini mengindikasikan bahwa mereka sedang mengupayakan pendanaan baru dengan para investor yang sudah terlibat dan potensial, serta tengah mengadakan pembicaraan untuk merevitalisasi fasilitas utang perusahaan.
Horizonte menyampaikan dalam sebuah pernyataan pada Senin bahwa proyek Araguaia di wilayah Amazon, Brasil, akan menghabiskan dana sekitar US$1 miliar, jauh melampaui anggaran sebelumnya sebesar US$537 juta. Dari anggaran tersebut, sekitar US$479 juta sudah dikeluarkan.
Perubahan drastis dalam biaya ini terjadi setelah keputusan untuk membatasi proyek ini hanya pada pekerjaan yang vital. Awalnya dijadwalkan untuk memulai produksi pada tahun ini, namun kini rencana tersebut mundur hingga awal 2026, dengan peningkatan waktu produksi yang diperpanjang menjadi 18 bulan dari yang sebelumnya 12 bulan.
Baca juga: Pasar Keuangan Domestik: Stabilitas Saat Euforia Pemilu Mereda
Sumber: Bloomberg Technoz.








